Sunday, December 13, 2015

Cara Membersihkan Desktop secara Total



Desktop yang bersih menawarkan kenyamanan sekaligus kesejukan bagi seorang pengguna, meskipun tentu ada juga di antara kita yang gemar menumpuk segala sesuatu ke desktop dengan pertimbangan lebih mudah diakses.

Bagi yang ingin membersihkan deskop secara total, tanpa menyisakan satu icon ataupun satu menu, di sini kita akan mempelajari caranya.

Pertama, simpanlah sejumlah file ke dalam partisi D, dan kelompokkan menjadi sejumlah folder berdasarkan jenisnya. Yang tak terpakai buang saja. Tak ada yang spesial di sini dan segalanya mudah diterapkan. Namun, Anda mungkin akan terkendala dengan beberapa icon yang membandel dan tidak dapat hilang berapa kali pun dipindahkan. Sebut saja Computer, Network, dan Recycle Bin.



Kedua, tugas kita ialah menghilangkan icon yang membandel. Klik kanan pada ruang kosong desktop, pilih Personalize, lalu klik Change desktop icons pada menu di sebelah kiri dari jendela yang barusan muncul. Setelahnya, akan muncul lagi sebuah jendela lain yang berukuran kecil. Lepaskan centang pada nama icon yang ingin dihilangkan, lalu Apply. Sampai di sini, desktop sudah terbebas dari icon. Namun, masih ada menu Start dan taskbar yang berderet di bawah.



Ketiga sekaligus terakhir, kita akan mengaktifkan fitur auto hide pada menu Start beserta taskbar. Klik kanan pada ruang kosong di taskbar, pilih Properties, lalu centang Auto-hide the taskbar, dan akhiri dengan klik Apply. Coba perhatikan gambar di bawah. Ya, itu bukan sebuah file foto biasa, melainkan capture dari desktop.


Wednesday, November 11, 2015

Mengantisipasi Berakhirnya Dukungan Chrome bagi Windows XP



Setelah berakhirnya masa Windows XP sejak 8 April 2014 untuk menerima dukungan keamanan Microsoft, diyakini bahwa OS tersebut akan menjadi target utama para hacker dalam menjalankan aksi. Tak mengherankan, bersebab masih banyaknya pengguna—atau calon korban—yang tetap berpuas diri pada OS tersebut, dan mungkin juga oleh sebab terkendala pada hardware yang kurang memadai.

Dengan asumsi internet menjadi sarang dari sejumlah virus yang disebarkan para hacker, maka sangat disarankan bagi para pengguna Windows XP untuk memilih browser yang aman dan masih mendapatkan dukungan berupa update dari pengembang. Adapun beberapa browser yang akrab, seperti Firefox, Opera, atau Chrome dari Google.

Namun, baru-baru ini dikabarkan kalau Chrome juga akan segera menghentikan dukungannya kepada Windows XP, tepatnya pada April 2016. Kabar tersebut diterbitkan pada blog resmi Google, dengan kutipan sebagai berikut: Mulai April 2016, Chrome tetap akan bisa berjalan di platform tersebut (Windows XP dan juga Vista), namun update keamanannya tidak diberikan lagi.

Dengan demikian, penting bagi pengguna Windows XP untuk mengetahui kabar ini, dan mulailah melakukan beberapa persiapan agar tetap aman dan nyaman bekerja dengan komputer yang bersistem operasi lawas tersebut. Adapun beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan, bila ada di antara Anda yang biasanya terbiasa menggunakan Chrome, memiliki banyak data seperti bookmark atau riwayat tertentu pada software tersebut, mulailah memindahkannya pada browser lain yang masih tetap memberi update keamanan, dan biasakanlah diri dengan browser selain Chrome.

Apabila ada yang masih tetap ingin menggunakan Chrome, itu tidak menjadi masalah dan sesuai yang disebutkan Google pada kutipan di atas, Chrome tetap bisa berjalan. Sebagai alternatif, bekalilah komputer dengan anti virus yang kuat, serta selalu rutin melakukan update. Hindari berselancar pada situs-situs yang cenderung menjadi sarang penebaran virus, semisal situs pornografi, software bajakan, atau yang senadanya.

Tetapi, akan sangat baik bila Anda mempertimbangkan untuk melakukan upgrade OS, minimal ke Windows 7. Dan untuk melakukan hal itu, pastikanlah processor Anda setidaknya memiliki kemampuan kecepatan 2 GHz, RAM 3 GB, lalu sisa ruang pada harddisk sekitar 20 sampai 50 GB. Ini standar dari kacamata pribadi penulis, di mana apa yang lebih diprioritaskan ialah tetap dapat bekerja secara nyaman tanpa terkendala oleh masalah lambatnya booting atau respons komputer dalam menjalankan perintah pengguna. Kalau dari pihak Microsoft sendiri, standar yang dicantumkan adalah standar yang paling sederhana. Anda bisa membacanya di sini.

*

2L, November 2015

Sunday, October 25, 2015

Membuat Suara Dubbing Tanpa Voice Actor



Bagi yang hobi atau sedang tahap belajar membuat video game atau video animasi, ketika dalam proyek tersebut kita melibatkan tokoh-tokoh manusia yang berdialog, tentu ada yang kurang apabila kita tidak menambahkan efek dubbing suara manusia. Namun, untuk menambahkan efek suara manusia, tentu bukan perkara mudah. Umumnya kita membutuhkan seorang voice actor dan jelas akan ada biaya tambahan. Kalaupun kita memiliki banyak kenalan yang berkenan sukarela menjadi voice actor, peran seorang voice actor itu tetap saja tidak mudah, butuh pengalaman agar memeroleh hasil yang maksimal dan cocok dengan tokoh yang diisikan suara. Ketika hasil kurang optimal, keberadaan efek dubbing suara manusia pada sebuah video game/animasi mungkin justru menciptakan suatu image buruk.

Sebagai pemula yang baru menjadi pengembang video game/animasi, alternatif yang dapat dicoba untuk menambahkan efek dubbing suara manusia ialah menggunakan software Microsoft Talk It!. Anda dapat mencari software tersebut dengan mesin pencari Google.

Cara kerja Microsoft Talk It! terbilang sederhana. Kita cukup mengetikkan teks dari dialog yang diinginkan, sesuaikan bahasa—mendukung bahasa Inggris dan Spanyol—lalu klik tombol Talk It! Yang berada di bawah, maka secara otomatis software pun akan membacakan dialog bersangkutan.



Selain mendukung dua bahasa, Microsoft Talk It! juga menyediakan 20 personalitas suara (tema) yang memungkinkan kita untuk memilih sesuai kebutuhan, juga opsi untuk menyesuaikan tinggih-rendah nada (Pitch), serta cepat-lambatnya kecepatan (Speed) dalam membacakan dialog, maupun opsi-opsi tingkat lanjut seperti Pitch Quality dan Vocal Effort. Dengan demikian lengkapnya opsi yang tersedia, kalaupun pada personalitas (Perconality) kita tidak menemukan pilihan suara domba (sheep), kita dapat mengkustomisasinya sendiri. Tergantung kreativitas!

Penulis sendiri beberapa saat lalu menggunakan Microsoft Talk It! untuk menciptakan suara domba dalam sebuah video singkat, meskipun tentu saja rasanya tak perlu diperdengarkan di sini. Namun, Anda bisa mendengarnya melalui sebuah demo video game versi beta yang juga penulis kerjakan dengan Microsoft Talk It! Di awal 2015. Berikut videonya:



Microsoft Talk It! 100% bekerja dengan mengandalkan fitur text-to-speech yang ada pada komputer Microsoft Windows. Fitur ini biasa juga bekerja pada software bawaan seperti Microsoft Narrator yang ditujukan kepada para penyandang tunanetra. Untuk itu, hanya komputer sehat dengan kemampuan text-to-speech yang bekerja baiklah yang dapat menggunakan software dengan tampilan skin ungu ini. Tak perlu penanganan khusus. Anda boleh mencobanya dulu.

Sedikit kekurangan dari Microsoft Talk It!, software ini hanya mampu membacakan dialog, namun tidak dapat mengkonversi bunyi itu menjadi file seperti MP3 atau AMR untuk diaplikasikan dalam berbagai kepentingan. Jadi, Anda membutuhkan software yang dapat merekam setiap suara yang dikeluarkan komputer menjadi sebuah file. Anda boleh mencoba Audacity yang cukup banyak direkomendasi.

2015, 2L

Saturday, October 24, 2015

Mematikan Fitur Memutar Video secara Otomatis pada Facebook

Dalam Facebook versi desktop, kini setiap video yang muncul pada Beranda ataupun timeline di berbagai tempat telah secara otomaris diputar begitu tersoroti oleh jendela browser. Kelebihannya, pengguna usah lagi melakukan klik pada tombol Play, dan juga sedikit banyak membantu untuk membedakan video asli atau video palsu dengan iming-iming konten porno yang sebenarnya adalah aplikasi jahat. Video asli akan otomatis berputar, sementara video palsu justru hanya berupa gambar dengan tampilan tombol Play yang begitu diklik bukannya memutar video, tetapi justru menjangkit akun bersangkutan.

Sementara kekurangannya ialah memakan kuota, merepotkan pengguna untuk mengklik tombol Stop apabila ada video yang tidak disukai, atau membuat koneksi menjadi lambat.

Untuk pertama kali diperkenalkan, Facebook akan memunculkan beberapa dialog panduan bagi pengguna yang ingin mematikan fitur otomatis memutar video tersebut. Bagi yang melewatkan dialog-dialog panduan tersebut, kita masih tetap dapat mematikannya.

1. Klik icon segitiga kecil yang ada di sudut kanan atas Facebook, lalu pilih Pengaturan.


2. Pilih Video pada menu di bagian kiri, lalu pada bagian Pemutaran Otomatis Video, ubah setting Default menjadi Mati. Perhatikan gambar di bawah untuk jelasnya.



2015, 2L

Thursday, July 23, 2015

Mengatasi Urutan Chat pada BBM Group yang Kacau



Bagi sejumlah pengguna fitur BBM group, mungkin pernah mengalami masalah di mana urutan pada chatbox tersebut tak sesuai, seperti adanya user tertentu yang komentarnya selalu tersusun di paling bawah (menjadi komentar terbaru) dan padahal sesudahnya masih ada banyak komentar lainnya yang justru semestinya menempati posisi lebih di bawahnya itu. Contoh kebalikan juga berlaku di sini. Misalkan ada juga komentar dari user tertentu yang bukan selalu tersusun di paling bawah, tetapi justru di atas sejumlah komentar yang semestinya mendahuluinya.

Ada yang mencoba 'mendepak' si user bermasalah keluar dari BBM group, baru di-add ulang lagi. Namun ini tidak menyelesaikan masalah.

Hal yang perlu dipahami sebagai faktor masalah justru ialah terdapatnya ketidakselarasan waktu atau jam yang diterapkan pada masing-masing gadget, sehingga chatbox miilk bersama itu menjadi kacau. Misalkan, waktu asli adalah pukul 20.11, tetapi ada anggota yang jam di gadget-nya lebih cepat 10 menit (pukul.20.21), maka--berdasarkan perbandingan pukul 20.11 dan 20.21--sistem akan selalu menandai 20.21 sebagai komentar terakhir atau komentar terbaru yang layak berada di bawah. Contoh kebalikan berlaku di sini. Ketika ada user yang jam pada gadget-nya lebih lambat 5 menit saja (pukul 20.06), sistem menandai setiap komentar user itu sebagai komentar lebih awal, dan menempatkannya di posisi atas.

Siapa yang akunnya paling berpotensi mengacaukan chatbox? Para user Android yang gemar bermain game secara curang mencuri nyawa, dengan trik menggeser waktu yang ada pada gadget agar lebih cepat satu jam atau satu hari, sehingga dengan lekas memeroleh jatah nyawa harian. Namun ini hanya intermeso dan tidak selalu mutlak di samping adanya ketidaksengajaan yang tentu tak baik bila si user kita salahkan.

Jadi, untuk mengatasi masalah kacaunya chatbox BBM group, selaraskanlah jam di setiap gadget. Mengatifkan fitur otomatis dalam penyesuaian jam pada gadget sangat direkomendasikan. Fitur tersebut akan secara otomatis menerapkan waktu paling tepat berdasarlan zona waktu.




2L, 2015

Wednesday, March 25, 2015

Memahami ‘Misteri’ Cara Kerja Layar Smartphone

Smartphone saya konon lebih canggih, ukuran layarnya pun lebih besar dari yang sebelumnya. Tapi…, mengapa tampilan foto dan teksnya justru menjadi lebih kecil?!
Pernahkah Anda menanyakan pertanyaan seperti yang di atas? Atau…, minimal pernahkah sekadar merasa heran dan memikirkannya dalam hati? Hal tersebut wajar terjadi. Beberapa pengguna mungkin menjadi kecewa, sudah habis uang banyak untuk membeli smartphone canggih, ternyata tetap saja smartphone lama memiliki tampilan yang lebih bagus—dengan asumsi suatu objek yang ditampilkan dalam ukuran semakin besar semakin bagus. Di balik semua itu, sebenarnya tak seburuk yang dipikirkan. Semua ada penjelasannya.
Pertama, perlu diketahui bahwa setiap objek yang muncul pada sebuah layar—tak peduli foto atau teks—dibangun dengan apa yang biasanya kita sebut sebagai pixel—butiran-butiran warna-warni yang berukuran kecil. Dan umumnya masing-masing smartphone memiliki jumlah pixel yang berbeda-beda pada layarnya yang juga memiliki ukuran bervariatif. Semakin canggih serta berkualitasnya sebuah smartphone, maka jumlah pixel yang dimiliki pun semakin banyak, walau ini tidak mutlak. Ukuran serta jarak antar-pixel yang dimiliki masing-masing smartphone juga bisa saja berbeda. Ada yang agak kasar (besar/lebar), yang halus, dan bahkan sangat halus (kecil/rapat), tergantung dari bagaimana besarnya layar yang akan memuat keseluruhan dari jumlah pixel yang ada.
Contoh, ada dua buah smartphone dengan jumlah pixel yang sama, yaitu 1280 x 720 (tinggi layar x lebar layar). Smartphone A memiliki layar sebesar 6 inci, sementara B memiliki layar sebesar 5 inci. Bersebab B memiliki layar yang lebih kecil, maka ketika jumlah pixel 1280 x 720 terisi ke dalam layar, pixel menjadi lebih kecil dan rapat dibanding ketika berada pada layar 6 inci.
Dengan memahami cara kerja pixel pada layar, kita kembali pada masalah pertanyaan di awal tulisan ini. Setiap objek dibangun berdasarkan jumlah pixel tertentu. Misalkan tinggi dari sebuah huruf “A” yang tampil pada sebuah aplikasi terdiri dari 10 pixel, atau tinggi dari sebuah foto terdiri dari 600 pixel, maka dengan sistem dan setting yang sama jumlah pixel itu akan tetap berlaku pada setiap smartphone. Dan oleh sebab ukuran serta jarak per pixel pada setiap smartphone itu berbeda, mata akan menangkap objek yang ditampilkan berbeda ukuran.
Kita kembali membandingkan dua buah smartphone yang berbeda. Smartphone A adalah smartphone yang lebih canggih dan mahal, mengusung layar sebesar 5 inci serta jumlah pixel 1920 x 1080, sedangkan B adalah smartphone model lama, hanya mengusung layar sebesar 3 inci serta jumlah pixel 640 x 360. Ketika sebuah foto yang tingginya terdiri dari 600 pixel ditampilkan pada smartphone B, itu sudah hampir setinggi satu layar dengan jumlah 640 pixel. Sementara bila ditampilkan pada smartphone A, 600 pixel bahkan tidak 1/3 dari jumlah 1920 pixel dari total tinggi satu layar. Kita dapat membayangkan, antara foto yang tampil hampir setinggi layar 3 inci (ukuran diagonal) dan foto yang tampil tidak sampai 1/3 layar 5 inci (ukuran diagonal), mata akan menerjemahkan yang mana satu ditampilkan lebih besar?



Benar! Smartphone model lama berhasil menampilkan foto dengan ukuran lebih besar dibanding smartphone yang canggih serta mahal! Kondisi yang sama juga berlaku pada ‘misteri’ teks yang terlihat lebih kecil ketika berada pada smartphone canggih.
Hal yang menjadi kejanggalan berikutnya adalah bila ternyata objek terlihat lebih besar pada smartphone model lama, lantas apa kelebihan dari jumlah pixel banyak yang diusung smartphone model baru? Kelebihannya jelas banyak. Semisal ketika kita sedang menjalankan suatu video atau game dan lain sebagainya, tampilan smartphone dengan layar ber-pixel banyak akan lebih lembut atau halus, oleh sebab butiran-butiran pixel yang membentuk suatu objek ukurannya lebih kecil dan rapat, sekaligus terdiri dari jumlah yang lebih banyak. Soal foto dan teks yang mengecil, biasanya dipengaruhi oleh aplikasi atau setting yang diterapkan. Kita dapat mengatasinya dengan mengubah setting pada masing-masing aplikasi, walau tidak semua aplikasi menyediakan fitur demikian.
*

Lea Willsen
25 Maret, 2015

Sunday, March 1, 2015

Kelebihan Device BlackBerry Versi Lama





Sejak pihak BlackBerry melepas produk aplikasi eksklusif mereka, BlackBerry Messenger (BBM) menjadi sebuah aplikasi multi device yang memungkinkan untuk dijalankan pada OS Android dan iOS, kelihatannya masyarakat kita mulai berpindah pada Android atau iOS. Bukan tanpa alasan. Seperti yang kita ketahui, banyak di antara kita yang tentu kurang nyaman dengan kondisi OS BB yang kerap perlu melakukan reboot, seperti mencabut dan memasang ulang baterai, agar performa dari device tersebut tetap terjaga.
Dengan spesifikasi yang seimbang, umumnya BB memiliki harga jual yang lebih tinggi. Atau bisa juga dengan harga yang seimbang, umumnya BB memiliki spesifikasi yang lebih rendah. BB sendiri bukan tidak memiliki senjata untuk menghadapi semua itu, seperti dengan bermunculannya berbagai device dengan OS BB10 yang bahkan memiliki kemampuan untuk menerima berbagai aplikasi Android yang bertipe APK. Hanya saja, BB10 kelihatannya telah kehilangan sesuatu yang berharga, yang hanya ada pada OS BB7 atau yang lebih rendah.
Benar! Sesuatu yang berharga itu tak lain ialah layanan Full BIS, di mana pengguna dapat dengan bebas mengunduh atau mengunggah file seberat apa saja, tanpa harus mengkhawatirkan masalah bengkaknya tagihan terhadap data yang terkuras, kuota yang habis, atau tercapainya batas pemakaian wajar yang selalu diberlakukan para provider bagi paket-paket unlimited yang disediakan. Jadi, BB10 benar-benar mirip seperti Android atau iOS, di mana setiap data yang terpakai ialah memiliki batas kuota, atau tarif-tarif data yang diberlakukan.
Kondisi hilangnya layanan Full BIS pada BB10 tentu tidak berpengaruh pada pengguna BB yang biasanya memang hanya berlangganan layanan chatting, atau pengguna yang kalaupun berlangganan Full BIS tetapi tidak terlalu aktif dan bergantung pada aktivitas-aktivitas daring yang membutuhkan layanan data berskala besar. Jadi, BB10 atau BB7 tidaklah menjadi masalah. Android memiliki daya tarik tinggi, terlebih dengan bermunculannya berbagai device dengan label pada golongan rendah.
Tidak untuk menunjukkan kurang berinovasinya device BB, tetapi lebih ditekankan pada kelebihan-kelebihan device BB ber-OS BB7 yang kurang disadari masyarakat. Lebih sering BB divonis negatif, minim aplikasi, kurang respons, atau senadanya. Namun, keberadaan layanan Full BIS ialah sebuah jawaban mutlak untuk semua kondisi yang disebutkan sebelumnya, mengapa device BB cenderung lebih mahal walau dari segi spesifikasi lebih rendah. BB tidak sekadar berjualan device, tetapi juga menawarkan layanan spesial yang tidak ada pada device merk lain. Dan layanan itu bersifat seumur hidup, dengan catatan selama device masih dapat berjalan secara normal.
Kalaupun pelanggan masih tetap dikenakan biaya bulanan, namun Full BIS tetap lebih unggul dengan tidak diberlakukannya batas pemakaian wajar seperti paket-paket unlimited dari provider. Misalkan saja sebuah batas pemakaian wajar adalah 2GB, maka setelah mencapai batas tersebut kecepatan pun menurun drastis. Sementara Full BIS memberikan kebebasan penuh tanpa adanya penurunan kualitas layanan. Tak peduli apakah sehari hendak menghamburkan 1GB, sebulan 30GB, biaya bulanan yang dikenakan tetap sama. Belum lagi bila dibandingkan dengan tarif reguler paket-paket lain yang dihitung berdasarkan kuota tertentu, berapa biaya yang diperlukan untuk 30GB?!
Jadi, antara OS BB7, Android, dan iOS sebenarnya relatif. Masing-masing memiliki kelebihan tersendiri. Tidak menutup kemungkinan juga, untuk masa-masa selanjutnya ketika device BB dengan OS BB7 tak lagi diproduksi, selama layanan Full BIS masih beroperasi, mungkin device lama tersebut akan menjadi gadget yang diburu oleh pengguna tertentu yang menyadari kelebihannya.
Untuk sekarang, pengembangan dari OS BB7 sendiri juga tak lagi dilanjutkan. Negara kita sedang memasuki masa transisi dari layanan 3G menuju 4G, kelihatannya layanan Full BIS tak akan lagi turut meramaikannya, bersebab tak ada lagi device BB 4G yang mendukung layanan Full B IS.
Akankah ke depannya kembali terlahir sebuah layanan yang setangguh Full BIS pada jaringan 4G? Rasanya sulit terealisasikan.


Sumber foto: internet