Monday, December 8, 2014

Review Game Dunia Online: Setting

Anda sedang membaca salah satu dari rangkaian review untuk game Dunia Online. Untuk membaca keseluruhan dari review ini--serta memeroleh tips dan infornasi lainnya--silakan mengakses halaman Intro.
Dunia Online


Sesuai judulnya, Dunia Online menawarkan permainan di mana kita akan berperan sebagai sesosok karakter di sebuah dunia daring yang mengambil setting pada negara Tiongkok kuno, lengkap dengan desain kuno busana tokoh-tokoh di dalam permainan, bangunan, serta misi dan sebagainya.


Setting pada Tiongkok kuno
Tersedia banyak misi yang dapat kita temukan sepanjang permainan. Seiring semakin banyaknya misi yang berhasil terselesaikan, karakter yang kita mainkan akan mengalami level up. Lalu, semakin karakter memiliki level yang tinggi, juga akan semakin banyak wilayah yang dapat dijejaki dengan sejumlah misi baru yang tengah menanti.

Temukan berbagai misi di sejumlah wilayah


Dengan adanya berbagai fitur seperti interaksi serta kerja sama tim bersama pemain lainnya dalam melawan musuh dan menyelesaikan misi, melatih jurus, melatih hewan peliharaan, berguru dengan pemain lain, mendirikan negara, menggelar lapak dagang dan mengumpulkan kekayaan, serta berganti kostum, game ini tentu tidak membuat pemain cepat merasa bosan. Bahkan, Anda dapat menikah dengan pemain lain, untuk kemudian menjalin hubungan yang lebih istimewa dalam menyelesaikan berbagai misi secara realtime!


Menikah dengan pemain lain
Ekstra EXP bagi sepasang suami istri


Anda mungkin akan berhadapan dengan segerombolan monster, iblis, atau makhluk-makhluk menyeramkan lainnya. Namun, Anda dapat mengajak teman Anda untuk turut membantu dalam pertarungan, atau Anda dapat menggunakan jasa prajurit bayaran untuk melakukan hal tersebut, apabila teman Anda tidak dalam kondisi dapat membantu Anda.

Membentuk tim untuk melawan musuh


Meskipun mengambil setting pada Tiongkok kuno, Dunia Online telah mendukung bahasa Indonesia. Di Indonesia, pengembang dari permainan ini adalah Jawa Online Pte.Ltd. Silakan unduh langsung dari Google Play.

Review Game Dunia Online: Intro



Sumber foto: fanspage


Tak berlebihan apabila kita menyebut Android sebagai raja dari mobile game. Dari berbagai game terkenal seperti Final Fantasy, kemudian yang berbasis online, yang memiliki kualitas grafis super mencengangkan, hingga yang sederhana seperti puzzle, bahkan yang klasik seperti tetris yang pertama kali diperkenalkan oleh Alexey Pajitnov pada tahun 1985.
Di samping itu, dengan berbagai aplikasi emulator, Android juga mampu menjalankan ribuan atau bahkan jutaan judul game yang dikembangkan pada berbagai console legendaris dari masa ke masa, seperti Nintendo, PlayStation (PSX/PSOne), PlayStation Portable (PSP), dan masih banyak lagi. Ya, meskipun sedikit disesalkan, karena beberapa emulator hanya akan berjalan dengan adanya sebuah file BIOS dari console bersangkutan, yang berarti dianggap ilegal oleh sejumlah pihak.
Satu sisi kita mempertimbangkan potensi serta sumbangsih besar Android pada perkembangan dunia video game modern, sisi lain kita juga sulit untuk tidak mengakui bahwa game merupakan salah satu bagian penting Android yang turut mendongkraknya menjadi sebuah OS pemimpin pasar. Intinya adalah antara OS Android dan aplikasi game adalah dua hal yang mutualisme. Dan untuk itu, aplikasi yang akan kita bahas di postingan kali ini ialah sebuah aplikasi permainan.
Kita tidak akan membahas aplikasi yang hanya kompatibel pada perangkat tertentu, oleh sebab system requirement yang terlalu tinggi. Yang akan kita bahas ialah yang tidak membutuhkan system requirement tinggi—agar kita semua berkesempatan mencobanya—tetapi menawarkan pengalaman permainan yang mengasyikkan. Aplikasi permainan ini berjudul Dunia Online.

Lanjut baca review Dunia Online pada sub judul:

3 Metode Tethering Android

Tethering adalah sebuah fitur smartphone berbasis OS Android yang memungkinkan kita untuk berbagi koneksi dengan perangkat lain, baik itu sesama smartphone, atau komputer/laptop. Bila meminjam istilah lama, tethering bisa mengandung arti menggunakan Android sebagai modem.
Terdapat 3 metode tethering yang dimiliki Android, yaitu: USB tethering; hotspot Wi-Fi portable; bluetooth tethering. Cara kerja ketiga metode tethering tergolong sederhana. Bila menggunakan metode USB, maka kedua perangkat harus dihubungkan dengan kabel data (kabel USB) terlebih dulu. Demikian juga dengan dua metode lainnya, kita harus menghubungkan kedua perangkat baik dengan Wi-Fi atau bluetooth.
Untuk menyiapkan tethering, cukup masuk ke Setelan>Selengkapnya>Tethering & hotspot portable. Anda akan menemukan tiga metode yang tersedia. Centang salah satu. Khusus untuk USB, opsi hanya dapat dicentang apabila kabel telah terhubung secara baik.
Centang salah satu

Penting juga untuk Anda ketahui. Banyak persepsi salah yang mengira Android dapat difungsikan sebagai Wi-Fi dan memberikan layanan jaringan secara gratis. Tidak demikian. Tethering juga berbayar. Misalkan Anda mengaktifkan USB tethering dari Android untuk sebuah laptop, maka laptop bersangkutan memang dapat surfing gratis, tetapi dengan catatan biaya data diberatkan pada smartphone Android.

Thursday, December 4, 2014

Review: Mini Wireless Keyboard

Netter, pada kesempatan kali ini kita akan melakukan review terhadap sebuah hardware berupa mini wireless keyboard yang kompatibel untuk digunakan pada laptop, desktop, tablet, projector,maupun smart TV, baik yang menggunakan OS Windows, Mac, Linux, atau Android. Di sini, produk yang digunakan penulis adalah merek iPazzPort, model KP-810-19, keluaran Hongkong.

iPazzPort, model KP-810-19. Sumber foto: ipazzport.com

Sedikit kronologi, barang ini kebetulan adalah pemberian paman penulis—seorang dosen—yang berdomisili di Hongkong. Namun, barang sejenis—meskipun mungkin dengan merek atau model yang berbeda—juga bisa dibeli di Indonesia, dengan kisaran harga 390.000 sampai 900.000 rupiah, tergantung spesifikasi. Untuk lebih jelasnya Anda boleh cek langsung di webstore Amazon atau Lazada, atau tanyakan langsung pada penjual langganan Anda.

My iPazzPort Mini Wireless Keyboard
Sesuai namanya, hardware ini berfungsi sebagai keyboard, dan juga mampu mengontrol gerakan dari pointer mouse melalui sebuah pad berukuran kecil yang ada di sisi kanan. Beberapa produk dengan merek dan model lain bisa saja memiliki struktur yang berbeda, ataupun kelebihan serta kekurangan masing-masing.

Pad di sisi kanan untuk mengendalikan pointer. Sumber foto: ipazzport.com
 
Untuk cara instalasi, pada sejumlah model mini wireless keyboard modern sudah mendukung plug and play, yang berarti pengguna tidak lagi harus repot-repot melakukan instalasi driver atau software pendukung lainnya. Begitu colok, hardware dapat langsung dihidupkan dan digunakan layaknya keyboard dan mouse pada umumnya. Sebagai perangkat wireless (tanpa kabel), apa yang dicolok pada komputer/laptop hanya berupa sebuah USB dongle—benda berukuran sangat kecil yang berfungsi sebagai konektor antara hardware dan komputer/laptop. Untuk pasokan daya bagi mini wireless keyboard sendiri, menggunakan dua buah baterai model 3A, atau yang biasanya digunakan untuk remote televisi dan perangkat audio.

Sebelum dicolok, USB gongle tersimpan di balik kover baterai. Sumber foto: i.ebayimg.com
Berbekal dua buah baterai model 3A, rata-rata mini wireless keyboard memiliki masa standby selama 3 bulan, sebelum kemudian Anda harus menggantinya dengan baterai baru, atau melakukan pengisian ulang terhadap baterai yang sudah habis daya. Namun, hal yang harus Anda perhatikan adalah tidak semua baterai 3A dapat melakukan pengisian daya ulang, kecuali yang memang diproduksi dengan dukungan rechargeable. Baterai 3A rechargeable memiliki harga sedikit lebih mahal dibanding 3A biasa, berkisar 45.000 rupiah. Untuk charge yang digunakan, ada yang sudah sepaket dengan mini wireless keyboard, atau Anda dapat membelinya secara terpisah (jika tidak sepaket). Kalau yang satu ini, 7 tahun lalu harganya berkisar 50.000 rupiah, tidak termasuk baterai rechargeable. Sekarang berkisar 100.000 ribu rupiah.

Charge. Sumber foto: tokoone.com
Seberapa dibutuhkankah sebuah mini wireless keyboard? Ya, pada dasarnya mini wireless keyboard memang bukan hardware wajib untuk sebuah komputer/laptop, apalagi kita semua tentu telah memiliki keyboard dan mouse—atau keypad—untuk melakukan berbagai aktivitas bersama komputer/laptop. Namun, jangan buru-buru memvonis hardware ini sia-sia belaka. Dalam kondisi tertentu, dengan ukurannya yang relatif mungil, nyaman digenggaman maupun disimpan di kantong, respons baik tanpa delay, dan yang pasti fiturnya yang lengkap serta jangkauannya yang mampu mencapai 10 meter, mini wireless keyboard akan sangat bermanfaat, bahkan melebihi manfaat dari sebuah keyboard atau mouse klasik.

Spesifikasi. Sumber foto: ipazzport.com
Untuk kepentingan gaming atau multimedia, baik menonton film atau mendengarkan musik melalui komputer/laptop, kini Anda tak harus menempel di depan monitor lagi. Menyetel volume, next, stop, skip, dan perintah-perintah umum lainnya juga dapat dilakukan hanya dengan mini wireless keyboard. Selain itu—seperti yang dijelaskan sebelumnya—mini wireless keyboard juga kompatibel digunakan pada smart TV, tablet, dan juga proyektor. Untuk kepentingan presentasi seperti mengganti tampilan pada monitor, menunjuk suatu objek atau coret-coret—seperti yang sering dilakukan Mario Teguh—mini wireless keyboard juga dapat diandalkan.

Menawarkan multi fungsi. Sumber foto: ipazzport.com
 
Sedikit kekurangan mungkin hanya terletak pada tombol qwerty yang kurang empuk, sehingga kurang cocok digunakan untuk mengetik dalam kecepatan tinggi. Meskipun demikian, mini wireless keyboard akan sangat bermanfaat sebagai sebuah keyboard alternatif, atau alat pendukung yang mana tahu sewaktu-waktu akan sangat dibutuhkan.
Fitur tambahan yang ada pada KP-810-19 ialah flashlight yang terdapat di bagian sisi kanan body. Overall, mini wireless keyboard cukup bermanfaat!

Reviewer: Lea Willsen

Monday, April 21, 2014

Fire Flame Effect dengan Photoshop

Berilah kejutan kepada mereka yang melihat foto Anda, di mana kini Anda terlihat sebagai sesosok manusia api yang berkobar terang. Tentu, Anda tak harus benar-benar membakar diri untuk kemudian meminta seseorang menjepretnya, karena kita cukup menerapkan efek fire flame dengan Photoshop. Satu hal unik dari tutorial menerapkan efek fire flame, terlepas dari rumus yang diterapkan, kreativitas juga berpengaruh dengan kualitas akhir yang diperoleh.



Tutorial

1

Jalankan Photoshop. Buka foto yang akan diberikan efek fire flame. Pada tutorial ini, penulis menggunakan foto dari seorang pegulat yang tengah bertelanjang dada.


2

Ketik Ctrl+M untuk membuka Curves. Sesuaikan kurva dengan mengikuti pola curva di bawah. Ketik Enter untuk menerapkannya. Foto akan terlihat sedikit lebih terang dari sebelumnya.


3

Klik Filter > Artistic > Neon Glow. Jika setelah klik Filter Anda tidak menemukan Artistic, carilah dari Filter Gallery. Beri angka 17 untuk Glow Size, dan 14 untuk Glow Brightness. Secara default Grow Color adalah biru. Biarkan saja. Klik OK bila sudah selesai.



4

Terapkan Desaturate pada foto dengan Ctrl+Shift+U. Foto kini menjadi hitam-putih.


5

Klik Image > Adjustments > Brightness/Contrast. Penulis memaksimumkan level keduanya. Namun, tak ada penerapan mutlak untuk step ini, mengingat bedanya kondisi foto masing-masing. Tujuan kita hanya memberi kekontrasan antara objek dan latar.



6

Ketik Ctrl+J untuk menduplikasi layer Background. Secara default layer baru ini bernama Layer 1.



7

Masih pada Layer 1, klik Filter > Stylize > Glowing Edges. Jika pada menu Filter atau Stylize tak ada, cari dari Filter Gallery. Beri angka 2 untuk Edge Width, 8 untuk Edge Brightness, dan 4 untuk Smoothness. Klik OK.



8

Ubahlah mode dari Layer 1 menjadi Screen.



9

Aktifkan Smudge Tool. Tool ini tidak memiliki shortcut, jadi carilah di Toolbar. Pada control bar, beri nilai kurang-lebih 70 untuk Strength. Jika sudah, gunakan tool untuk menarik tepi-tepi objek ke arah atas, menyerupai kobaran api.





10

Beri filter Gaussian Blur dengan klik Filter > Blur > Gaussian Blur. Radius dengan nilai 1.1 pixel. Klik OK.




11


Beri lagi filter Lens Flare dengan klik Filter > Render > Lens Flare. Gunakan Lens Type 35mm Prime, Filter ini berwujud seberkas cahaya yang posisi serta ukurannya dapat Anda atur sendiri. Anda juga boleh memberi lebih dari satu Lens Flare.



12

Selanjutnya, klik Image > Mode > Grayscale. Sebuah jendela akan muncul. Konfirmasi untuk Flatten, dan Discard. Filter Lens Flare yang sebelumnya kita tambahkan akan menjadi senada dengan objek lain, diikuti menyatunya semua layer menjadi satu.


13

Setelah sebelumnya foto diubah menjadi Grayscale, sekarang ubah lagi menjadi Indexed Color. Caranya hampir sama, klik Image > Mode > Indexed Color. Anda tidak akan melihat perubahan apa pun dari foto. Namun, biarkan saja dan lanjutkan tutorial ini.


14

Kembali ubah mode foto. Klik Image > Mode > Color Table. Sebuah jendela akan muncul. Ubah bagian Table menjadi Black Body. Klik OK.



15

Anda tentu gembira setelah penerapan step 14 sebelumnya. Benar, efek fire flame telah berhasil diterapkan! Silakan simpan hasil kerja Anda dengan Ctrl+S atau Ctrl+Shift+S.


Tips: Sedikit tambahan. Bila Anda ingin menyimpan foto sebagai JPEG—agar kompatibel dibuka dari berbagai gadget—ubah Indexed Color menjadi RGB Color terlebih dulu. Klik Image > Mode > RGB Color.



2L, 2014